banner 970x90

Wali Kota Pangkalpinang Tekankan Pentingnya Smart City, Jelaskan 4 Pilar Pembangunannya

banner 120x600
banner 468x60

PANGKALPINANG – Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin (Udin), tampil sebagai Orator Ilmiah pada Wisuda ke-XXXV Sarjana dan Magister Universitas Pertiba. Dalam orasinya berjudul “Smart City: Concept and Strategies for Sustainable Urban Development”.

Prof. Udin menegaskan bahwa kota modern harus dibangun dengan pendekatan berkelanjutan yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan.

banner 325x300

Dalam paparannya, Udin menjelaskan bahwa sekitar 68% penduduk dunia akan tinggal di wilayah perkotaan, sementara hanya 32% yang berada di pedesaan. Kondisi ini menyebabkan kota-kota menghadapi beragam persoalan, mulai dari masalah sampah, kualitas lingkungan, polusi udara, kemacetan, pelayanan publik yang belum optimal, pasar yang kumuh, hingga banjir.

Ia mencontohkan kondisi di Pangkalpinang yang mengalami kemacetan pada jam-jam tertentu, berbeda dengan kota besar seperti Jakarta yang macet hampir sepanjang hari. Masalah pelayanan publik seperti antrean panjang BPJS maupun pembuatan KTP juga masih terjadi. Selain itu, persoalan banjir menurutnya bukan semata karena dataran rendah, tetapi akibat pembangunan yang tidak sesuai peruntukan lahan.

“Sering kali masyarakat membangun rumah atau toko di kawasan resapan air. Ketika ditimbun, wilayah yang sebelumnya tidak banjir, justru menjadi banjir,” tegasnya, Sabtu (22/11).

Udin menjelaskan bahwa konsep smart city telah diterapkan di berbagai kota dunia seperti Los Angeles, Amsterdam, dan sejumlah kota maju lainnya. Konsep ini terbukti mampu mengatasi persoalan perkotaan secara efektif dan berkelanjutan.

Menurutnya, pembangunan kota tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Harus ada kawasan penyangga banjir, ruang terbuka hijau, hutan kota, kawasan konservasi, serta pengaturan tata ruang yang tidak “brutal”.

“Smart dan sustainable city adalah konsep berbasis manusia. Pusat pembangunan adalah people, bukan sekadar infrastruktur,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kota cerdas memerlukan integrasi antara manusia dengan teknologi digital, khususnya melalui teknologi IoT (Internet of Things), sensor, jaringan, dan platform digital.

Dalam orasinya, Udin menyebutkan empat pilar pembangunan kota cerdas yang diadaptasi dari berbagai kajian ilmiah, yakni:
• Lingkungan (Environment)
• Masyarakat (Society)
• Tata Kelola (Governance)
• Ekonomi (Economy)
Pilar tersebut, katanya, menjadi dasar untuk menghadirkan kota yang manusiawi, efisien, transparan, dan didukung oleh data real-time.

Prof. Udin juga menekankan bahwa inovasi merupakan kata kunci pembangunan masa kini dan masa depan. Ia mendorong para lulusan, baik Sarjana maupun Magister, untuk terus mengembangkan inovasi di berbagai bidang tempat mereka bekerja.

Ia juga menegaskan pentingnya literasi digital bagi semua lulusan tanpa memandang disiplin ilmu. “Sarjana hukum, ekonomi, atau bidang lainnya, semuanya harus menguasai literasi digital. Itu adalah kebutuhan wajib di era sekarang,” ujarnya.

Mengakhiri orasi ilmiahnya, Udin menyampaikan bahwa smart city adalah jalan transformasi bagi kota-kota di Indonesia. Dengan mengintegrasikan teknologi, desain berbasis manusia, dan data, kota-kota dapat meningkatkan kualitas hidup warganya serta mengoptimalkan sumber daya.

“Kesuksesan implementasi smart city membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat,” tutupnya.

Pada Wisuda XXXV Universitas Pertiba, tercatat 295 wisudawan, di mana 237 di antaranya telah memiliki hak cipta atas karya atau inovasi yang dihasilkan selama studi. Capaian ini diapresiasi sebagai bentuk kontribusi nyata kampus terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia dan budaya inovasi.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *